Menjadi Wakil dan Bupati Lembata, Bupati Thomas Ola Langoday Figur Pemimpin Humanis

- 24 Mei 2022, 11:07 WIB
Plt. Bupati Lembata Thomas Ola Langoday dal kunjungan ke Dasamisma Melati Kolibuto, kelurahan Lewoleba Barat, Sabtu 4 September 2021
Plt. Bupati Lembata Thomas Ola Langoday dal kunjungan ke Dasamisma Melati Kolibuto, kelurahan Lewoleba Barat, Sabtu 4 September 2021 /Beritalembata.com/Emanuel Bataona

VOX TIMOR - Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday, mengakhiri masa jabatannya. Sisa masa jabatan yang dilanjutkan Thomas, ketika meninggalnya Bupati Eliaser Yance Sunur.

Keduanya merupakan pasangan Bupati dan Wakil bupati Lembata, periode 2017-2022.

Thomas Ola Langoday mengakhiri jabatannya ditandai dengan penyerahan memori jabatan di aula El Tari kantor gubernur NTT, saat pelantikan penjabat bupati Lembata dan Flotim oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Minggu 22 Mei 2022 siang.

Thomas Ola Langoday, usai prosesi pelantikan dan penyerahan memori jabatan, menyampaikan dirinya akan kembali menjadi seorang dosen di tempat kerjanya sebelum menjadi wakil bupati hingga bupati Lembata.

Baca Juga: Sebagai Penghormatan, Komunitas Fitun Malaka Kalungi Bupati Fransiskus Diogo Dengan Kain Tenun Malaka

"Jadi guru (dosen) di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Kembali  ke kandang," katanya, ketika ditanya mengenai aktifitasnya pasca tidak lagi menjabat jadi Bupati.

Thomas Ola Langoday sebelumnya merupakan seorang dosen di Unwira Kupang. Dia sempat menjadi Dekan Fakultas Ekonomi di kampus tersebut.

Baca Juga: Obyek Wisata Linggo Asri, Merupakan Destinasi Yang Populer di Pekalongan

Ketika kembali mengajar, Thomas Ola mengaku akan menjadi dosen di Magister Manajemen pada kampus yang sama.

Mengenai pelantikan penjabat baru, Thomas Ola Langoday mengaku dirinya tidak menyampaikan apa-apa.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Pada pilkada 2024, Thomas menyebut, dirinya akan kembali bertarung menjadi calon Bupati bila dikehendaki rakyat.

Bupati Sembilan Bulan 

Selama sembilan bulan masa jabatan Dr.Thomas Ola Langoday sebagai Bupati Kabupaten Lembata di NTT.

Thomas Ola Langoday sebelumnya dilantik sebagai Wakil Bupati Lembata berpasangan dengan Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur untuk masa jabatan 2017-2022.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Thomas Ola Langoday baru dilantik sebagai Bupati Lembata untuk masa jabatan (antar-waktu) 16 September 2021 sd 22 Mei 2022, menggantikan Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur yang telah meninggal dunia.

Menariknya, selama menjadi Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday terbilang piawai dalam memelihara kerja sama yang baik dengan Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Hal ini seperti pernah ditunjukannya ketika ia meminta doa restu dari masyarakat agar berpasangannya dengan Bupati Yentji Sunur tetap harmonis hingga akhir masa jabatan 2022.

"Supaya di sisa masa bakti kami berdua selalu harmonis dan selalu mesra," ujarnya saat menyerahkan BLT di desa Tanjung Bata, kecamatan Ile Ape, pada 15 Juni 2020.

Baca Juga: PT IDK Kontrak Lahan Masyarakat di Desa Weoe-Malaka Senilai Rp. 1.500.000 Per Tahun

Akan tetapi, pada tanggal 17 Juli 2021, terjadi musibah tak terduga, Bupati Lembata Yentji Sunur wafat.

Dengan demikian, struktur kepemimpinan kepala daerah kabupaten Lembata pun menjadi berubah.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Rincian jabatan Thomas Ola Langoday adalah 4 tahun 3 bulan menjadi Wakil Bupati Lembata, dan selama 9 bulan sebagai Bupati Lembata menggantikan Bupati Lembata Yentji Sunur yang meninggal dunia.

Prestasi Thomas Ola Langoday

Dalam perspektif Lewotana Lembata, warga masyarakat Lembata ingin tahu apa saja prestasi Thomas Ola Langoday yang selama sembilan bulan menjabat Bupati/Kepala Daerah Lembata?

Baca Juga: Yayasan Ani Akan Bantu Kursi Roda untuk Antonia, Lansia Asal Desa Paka yang Menderita Diabates

Dalam masa jabatan yang singkat itu, ternyata ia awali dengan melakukan pembenahan tata kelola pemerintahan di Pemkab Lembata.

Thomas Ola Langoday telah melakukan restrukturisasi birokrasi dengan mulus dan tertib dalam rangka meningkatkan profesionalitas birokrat yang melayani masyarakat.

Thomas Ola Langoday juga banyak turun ke bawah dalam kegiatan road map kunjungan kerja dan berdialog konstruktif dengan warga masyarakat Lembata.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Kedekatannya dengan masyarakat Lembata dilakukannya bernuansa humanis. Ia mampu membuka ruang partisipasi masyarakat dalam membangun Lembata.

Banyak pula para sesepuh dan tokoh masyarakat Lembata bersimpati dan menyatakan respek terhadap kehadirannya.

Baca Juga: Kades Intimidasi Wartawan, Ketua SMSI Malaka Kutuk Tindakan Kepala Desa di Malaka

Hanya selama sembilan bulan menjabat Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday ternyata mampu mendorong dan mengajak segenap warga masyarakat Lembata untuk kembali mengaktualisasi dan merevitalisasi nilai-nilai budaya Lembata berbasis tradisi adat istiadat leluhur.

Untuk pertama kalinya, sepanjang sejarah Lembata, ia mampu mendongkrak spirit slogan "taan tou" yang menggetarkan denyut jantung Lembata dengan menggelar Eksplorasi Budaya Lembata-Sare Dame-Taan Tou yang berlangsung spektakuler di bulan Maret 2022.

Baca Juga: Yayasan Ani Akan Bantu Kursi Roda untuk Antonia, Lansia Asal Desa Paka yang Menderita Diabates

Agenda Eksplorasi Budaya Lembata antara lain meliputi pentas seni komunitas Lembata, seminar budaya Lembata, dan lainnya, dan diakhiri dengan napak tilas perjuangan Statement 7 Maret 1954.

Pergelaran Eksplorasi Budaya Lembata merupakan lompatan budaya dalam sejarah baru Lembata, dan merupakan aktivitas budaya dalam performa yang spektakuler.

Baca Juga: Yayasan Ani Akan Bantu Kursi Roda untuk Antonia, Lansia Asal Desa Paka yang Menderita Diabates

Dari arus utama pagelaran Eksplorasi Budaya Lembata itu, telah membuka "mata hati" warga masyarakat Lembata akan memperkukuh spirit semboyan taan tou yang lebih bermakna.

Thomas Ola Langoday memang berkomitmen mengaktualisasikan kandungan khazanah kebudayaan Lembata yang berkemajuan.

Eksplorasi Budaya Lembata juga sebagai wahana memperkuat sosial-budaya Lembata. Juga sebagai cara mengapresiasi kearifan hidup bersama sebagai budaya rohani Lewotana/Leuauq, yang memancarkan pencerahan selaras dengan keteladanan leluhur.

Baca Juga: Festival Ethnic Transgender Queen di Kabupaten Sikka, Komunitas Fitun Malaka Tampil Dengan Tarian Likurai

Dalam kata sambutannya, pada pembukaan Pekan Eksplorasi Budaya Lembata tanggal 3 Maret 2022, ia dengan tegas mendorong solidaritas "taan tou" yang terinspirasi dari keteladanan budaya leluhur Lembata.

Dalam konten sambutannya itu, Thomas Ola Langoday mengapresiasi sikap budaya yang humanistis ditopang oleh partisipasi masyarakat secara kolektivitas dan gotong-royong sebagai manifestasi empati dan kasih sayang di antara sesama warga.

Baca Juga: Kades Intimidasi Wartawan, Ketua SMSI Malaka Kutuk Tindakan Kepala Desa di Malaka

Fenomena ini diharapkan akan membangkitkan rasa kebersamaan warga Lembata, yakni hidup bersama dalam sebuah biduk bernama Lembata yang telah mengarungi perjuangan semenjak Statement 7 Maret 1954.

Di akhir masa jabatannya, Thomas Ola Langoday berpesan: "Mari kita kembali ke jati diri Lembata yang luhur".

Penampilan Thomas Ola Langoday yang bercorak sederhana dan prasaja itu memiliki filosofi tersendiri, yakni sebagai teladan untuk melayani masyarakat.

Baca Juga: PT IDK Kontrak Lahan Masyarakat di Desa Weoe-Malaka Senilai Rp. 1.500.000 Per Tahun

Ada sebuah pertanyaan, seperti apakah pola kepemimpinan Dr.Thomas Ola Langoday?
Dari perspektif kepemimpinan, Thomas Ola Langoday terkesan lebih sebagai seorang pemimpin humanis.

Dari sudut pandang politis, nampak ia berpolitik berdimensi humaniter bersifat kemanusiaan. Adapun karakteristik pemimpin humanis adalah berdasarkan asas perikemanusiaan.

Baca Juga: Tahapan Pemilu 2024 Akan Dimulai 14 Juni 2022, Begini Kata Komisioner KPU-RI

Filosifi pemimpin humanis adalah menganggap leader hebat tidak melihat dirinya hebat, tetapi melihat dirinya sebagai kodrat manusia, dan melihat orang lain juga sebagai sesama manusia.

Ia mengubah paradigma: "peran saya" menjadi "peran kita", karena dia memimpin dengan hati.

Tidaklah berlebihan bahwa apa yang diuraikan tersebut adalah yang dimiliki oleh sosok Thomas Ola Langoday melalui penelusuran selama ia menjabat sebagai Wakil Bupati Lembata maupun sebagai Bupati Lembata.

Baca Juga: Yayasan Ani Akan Bantu Kursi Roda untuk Antonia, Lansia Asal Desa Paka yang Menderita Diabates

Thomas Ola Langoday telah berperan aktif membuka "pintu masuk" ekspresi persentuhan kultural Lembata berbasis tata nilai "taan tou" dan "oneq udeq".

Sebagai warga masyarakat yang berbudaya, kita ucapkan terima kasih kepada Dr. Thomas Ola Langoday yang selama 5 tahun telah berdedikasi untuk kejayaan Lembata tercinta.***

 

 

 

Editor: Oktavianus Seldy Berek


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah